
Ada saat kita pernah merasa menyesal memilih jalan, berharap melalui jalan tersebut kita bisa mencapai tujuan sesuai target. Justru yang dijumpai sebaliknya, ternyata di tengah jalan kita terjebak dengan kemacetan. Mau mundur tidak bisa majupun tidak bisa “maju kena mundur kena” seperti itulah kira-kira istilahnya.
Akhirnya tidak ada pilihan lain, mau tak mau jalan tersebut harus dijalani baik terik maupun hujan, mengeluhpun tidak memberi perubahan apapun. Perlahan namun pasti jalan tersebut tetap harus di lalui dengan sabar untuk sampai ke tujuan.
Berbeda cerita yang naik kendaraan salah jurusan resikonya lebih besar jadinya tersesat dan jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas.
Dalam hidup kita juga pernah dihadapkan dengan kondisi yang sama, dimana kita merasa menyesal di tengah jalan. Mau mundur rasanya tidak mungkin, majupun terlalu berat.
Akhirnya pilihan hanya satu, semua harus tetap dijalani dengan hati yang berat yang penting bisa sampai ke tujuan. Meskipun dengan kondisi nafas yang tersengal-sengal.
Kesalahan awal di mulai saat kita salah memilih jurusan di bangku kuliah. Sebenarnya pada saat itulah titik paling penting menentukan pilihan, karena kuliah merupakan jalan mendekati karier. Jadi diperlukan usaha yang maksimal dan totalitas untuk menjalaninya.
Kita sering tidak menyadari akan kesalahan tersebut, saat nama kita tercantum dalam deret kelulusan suatu universitas rasa gembira dan kebanggaan menyelimuti kita. Kita tidak tahu tantangan seperti apa yang akan kita jalani ke depannya.
Mungkin awal-awal semester semua masih berjalan lancar. Semester selanjutnya sudah mulai bingung dan sedikit meraba. Berikutnya merasa tersesat pada jurusan yang salah, namun tetap bertahan. Pada akhir semester baru merasa kewalahan.
Pada saat itulah barulah menyadari berada pada posisi yang salah, mau berhenti rasanya sayang. Jadinya kuliah tetap dilanjutkan sampai akhir dalam kondisi yang kelelahan dan nilai pas-pasan. Akhirnya lahirlah sarjana yang tidak berkopeten di bidangnya.
Sebenarnya Ada beberapa faktor penyebab seseorang salah memilih jurusan diantaranya adalah:
- Sistem Pendidikan Yang Ambigu
Sistem pendidikan di negeri ini membuat kita meraba-raba memilih jurusan mana yang cocok untuk kita. Setiap siswa dituntut menguasai semua bidang/mata pelajaran.
Jadinya siswa tidak menyadari potensi diri yang dimilikinya. Akhirnya siswa terpaksa mempelajari semua mata pelajaran. Kalaupun ada pembagian jurusan, biasanya pada kelas tiga Sekolah menengah Atas. Waktu yang sempit untuk mengembangkan bakat minat serta menggali potensi , yang dimiliki seorang siswa.
2. Pengaruh trend/ gengsi
Pengaruh trend adalah hal yang paling sering terjadi dikalangan siswa saat memilih jurusan. Anggapan bahwa jursan IPA adalah jurusan anak-anak pintar dan cerdas. Umumnya para siswa berlomba-lomba ingin kejurusan tersebut. Padahal nilai rata-rata mereka lebih cenderung ke IPS dan BAHASA. Tapi karena faktor gengsi semua berlomba-lomba ke IPA
3. Ingin Kuliah dikampus Ternama
Siapa sih yang tidak senang jika mampu menembus kampus ternama seperti Kedokteran, Teknik, Hukum, MIPA. Orang Tua mana yang tidak bangga saat anaknya lulus di kampus terkenal yang diminati kebanyakan orang – orang.
Walaupun pada kenyataannya jauh dari bakat minat si anak dan membuat si anak kelimpungan pada saat bersaing dilingkungan kampus. Ujung-ujungnya akan berefek pada masa depan nantinya.
4. Dominasi Orang tua
Dominasi orang tua sangat berpengaruh besar pada saat pemilihan jurusan. Orang tua sangat berharap anaknya bisa kuliah dibidang yang ternama misalnya Kedokteran, Teknik, AKPOL, AKABRI, IPDN, dan STAN dengan harapan masa depan anaknya lebih terjamin.
Sering kali anak dipaksakan menuruti kemauan orang tuanya meskipun bertolak belakang dengan bakat minat yang dimiliki.
5. Pengaruh Prospek masa depan dari pilihan jurusan
Faktor prospek masa depan sebuah jurusan juga berpengaruh pada saat pemilihan jurusan. Misalnya bidang guru dan medis mempunyai peluang yang besar dalam penerimaan tenaga kerja.
Maka pilihanlebih cenderung pada kedua bidang tersebut. sedangkan jurusan seni, ilmu hewan, hukum dan lainnya kurang diminati jadinya banyak potensi diri yang terabaikan.
6. Faktor Ekonomi
Mengingat biaya pendidikan yang sangat mahal, membuat siswa berpikir berulang kali untuk memilih jurusan yang diminati. Mereka cenderung mengurungkan niatnya memilih jurusan yang sesuai keinginannya, mengingat besarnya biaya yang harus dikeluarkan.
Jika seorang siswa yang berprestasi mampu menembus jurusan favorit dikampus ternama harus mengabaikan prestasinya hanya karena faktor biaya. Terpaksa memilih kuliah di kampung sambil membantu orang tua.
7. Kurangnya pengarahan dari guru konseling.
Peranan guru konsling sangat berpengaruh pada masa sekolah menengah. Dimana siswa perlu diarahkan pada bakat minat yang dimiliki. Mereka perlu banyak pengarahan mengingat berada pada posisi peralihan dari remaja menuju pendewasaan.
Di kota mungkin peranan guru konsling sudah mulai ada, sedangkan di daerah-daerah guru konsling bisa masih dikatakan tidak ada.
8. Tidak Adanya Psiko Test.
Tes bakat minat sebenarnya sangatlah penting untuk menggali potensi dari si anak. Bagusnya dilakukan pada saat menjajaki bangku menengah supaya memudahkan guru, orang tua untuk mengarahkan bakat dan minat si anak. Tapi hal ini jarang dilakukan mengingat ketidak tahuan orang tua dan biaya untuk psikotes relatif mahal.
Faktor diatas merupakan kesalahan yang tidak kita sadari pada saat kita memilih jurusan. Kesannya spele tapi memberi dampak yang besar untuk penentuan masa depan.
Ketika seseorang kuliah bukan pada jurusan bakat dan minatnya, maka ilmu yang di serap kurang maksimal lulus dengan nilai pas-pasan tidak menghasilkan sarjana yang berkopeten dibidangnya.
Semua akan berlanjut ke jenjang kerja, saat bekerja tidak sesuai passion akan berpengaruh pada kinerja seseorang.
Jadi kepada yang merasa telah salah mengambil jurusan berusahalah untuk mencintai profesi yang sekarang, kalaupn masih ingin mengembangkan karier sesuai bakat dan minatnya tidak ada kata terlambat selalu ada kesempatan kedua.
Tapi kepada adik-adik yang akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah diharapkan mau belajar dan berkonsultasi kepada guru konsling atau psikolog tentang pemilihan jursan sesuai bakat dan minat.

