Setiap manusia itu tidak ada yang bebas dari masalah, selama kita masih hidup masalah itu tetap ada. Jika menghadapi masalah membuat seseorang sedih, stres dan depresi itu adalah hal yang wajar. Kita boleh menangis semau kita. Tetapi, sedih dan menangisnya jangan terlalu lama cukup 1 atau 2 minggu setelah itu bangkitlah dan tersenyum lagi jalani hidup seperti semula.
Dalam minggu ini ada berita di media di mana di Jawa Tengah ada seorang ibu melompat bersama putrinya dari lantai 10 sebuah hotel tewas di tempat. Kabarnya si ibu adalah istri kedua dan anak dari pernikahan sirinya.
Baru-baru ini juga diberitakan seorang ibu nekat menenggak racun serangga untuk mengakhiri hidupnya tapi sebelumnya meracuni ketiga anaknya terlebih dahulu naasnya percobaan bunuh diri si ibu gagal kini dalam kondisi kritis di rumah sakit.
Berita duka juga terdengar dari jagat hiburan korea artis ternama Jeon Tae So dikabarkan meninggal akibat menderita depresi. Belum lama juga dari blantika Musik Asia, ada kabar seorang artis K-POP Jong Hyun SHINee bunuh diri. Sontak membuat fansnya terkejut dan mereka yang umumnya remaja ikut-ikutan bunuh diri seperti idolanya dengan cara menenggak obat penenang.
Masih segar dalam ingatan kita khususnya pecinta musik dunia dikejutkan dengan meninggalnya Chester Benington vocalis band ternama dunia LINKIN PARK dimana kedapatan bunuh diri dengan cara menggantung diri. Kabarnya rekannya sebelumnya juga melakukan hal yang sama tepat di tanggal yang sama pada hari kematiannya.
Masih banyak artis-artis papan atas yang mati karena bunh diri, misalnya: Michael Jackson, Whitney Hoston, Elvis Presley, Robin Wiliams, Marrilyn Monroe, Cory Montaith, dan masih banyak arti-artis lainnya yang mumumnya mereka sedang berada di puncak karir. Penyebab kematian mereka umumnya karena depresi.
Bunuh diri sudah menjadi hal yang biasa di era sekarang, dimana seseorang begitu mudah mengambil pilihan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Sebenarnya apa penyebab seseorang bisa mengambil jalan pintas tersebut.
Kalau berbicara tentang kesulitan hidup, kasus bunuh diri tidak hanya terjadi kalangan menengah ke bawah justru umumnya banyak terjadi pada kelas menengah ke atas, mereka bunuh diri saat berada di puncak karir dan pada masa popularitas yang tinggi. Berarti materi, ketenaran bukanlah tujuan utama kebahagiaan hidup buktinya banyak para artis bunuh diri pada puncak popularitas dan bergelimang harta.
Umumnya mereka yang bunuh diri disebabkan depresi yang berkepanjangan. Lantas mengapa seseorang yang depresi itu harus mengambil langkah bunuh diri?
Depresi merupakan suatu gangguan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus tertekan atau kehilangan minat dalam beraktivitas yang menyebabkan penurunan dalam kulitas hidup.
Depresi bisa di sebabkan oleh traumatic, luka yang mendalam ataupun tekanan yang menyebabkan stres berkepanjangan berujung pada depresi. Akibatnya melakukan pelarian ke obat penenang, alkohol dan bunuh diri. Mengapa depresi begitu mudah menghinggapi jiwa manusia?
Semua kembali kepada jiwa masing-masing, tidak semua jiwa mempunyai pertahanan yang sama. Ada yang kuat, tenang dan ada yang rapuh. Begitu ditimpakan sedikit masalah sudah stress dan menyalahkan semua pihak, bahkan banyak yang menempuh jalan yang salah dengan lari ke alkohol dan obat-obat terlarang.
Logikanya, jiwa kita di ibaratkan sebuah ember yang diisi air. Jika ember itu kosong, maka seseorang akan mengalami depresi. Misalkan sebuah fenomena dimana orang-orang banyak melakukan dugem atau mengkonsumsi obat terlarang. Mungkin ini cara yang ampuh untuk mengatasi stress tapi perlu diketahui ini hanya berlaku sementara sebagai pelarian berhasilnya sesaat siapapun akan bahagia.
Sebenarnya, tanpa kita sadari justru kita telah mengguncangkan ember itu dengan sangat kuat. sehingga air dalam ember tersebut tumpah keluar. Karena kita menggoyangnya terlalu kuat. Makin lama makin sedikit sampai habis. Tanpa kita sadari kita telah menjadi pribadi yang kering dan labiL. Puncaknya pada saat air dalam ember tersebut habis, seseorang akan mengalami depresi karena otak sudah tidak bisa menanganinya.
Analogi air dalam ember bisa juga dikondisikan lebih buruk. Misalkan kita bocorkan maka lebih berbahaya dari yang diatas. Bisa disebabkan alkohol, narkoba dan obat penenang. Bisa dibayangkan, jika sebuah ember dibocorkan sekaligs diguncangkan maka begitu cepat air dalam ember tersebut habis. Puncaknya seseorang akan mengalamai stres dan depresi berkepanjangan pada ujungnya gila atau bunuh diri.
Seorang yang berjiwa tenang bisa dianalogikan ember yang berair tenang. Ketika ada masalah dicairkan dengan doa, Kalaupun ada guncangan riaknya akan sangat kecil. Semua akan kembali tenang ketika semua disandarkan pada Tuhan.
Menurut Psikolog klinis Pingkan CB Rumondor menjelaskan, rasa marah, sedih, bingung adalah sesuatu yang wajar. Namun rasa itu mampu memicu seseorang berbuat irrasional.
Perlu diketahui pertahanan seseorang tidaklah sama dalam menghadapi masalah. Kita tidak bisa menyalahkan sebab ketahanan seseorang itu dalam menghadapi masalah karena pola asuh orang tua. Pastinya ada proses panjang sebelumnya yang mereka alami dan kita tidak menyadari keganjalan dari mereka.
Ada lima fase yang harus dilewati ketika kita melewati permasalahan:
1. Fase Penyangkalan
Fase penyangkalan dimana kita biasanya menyangkal, seperti ‘Kenapa ini terjadi sama saya?” “ kenapa harus saya “ kita masih memungkiri segala hal yang terjadi masih beranggapan semua tidak mungkin. Shock adalah respon awal menerima sebuah kenyataan.
2. Fase Marah
Fase dimana kita berontak tidak bisa menerima kenyataan, jiwa kita marah meronta dan menangis sejadi-jadinya. Pada fase ini seseorang bisa mengekspresikan segala emosinya seperti menangis sejadi-jadinya.
3. Fase Menawar (bargaining)
Yaitu fase dimana kita bersedia melakukan sesuatu asal mendapatkan kembali apa yang kita inginkan. Fase ini orang akan kehilangan pegangan akan melakukan apapun untuk mengembalikan semua menjadi seperti semula.
4. Fase depresi
Fase dimana kita menangisi segala hal yang terjadi, pada saat depresi kita biasanya mencari orang lain seperti kawan atau orang tua yang bisa dijadikan kawan untuk bicara atau curhat. Tentunya seseorang yang bisa dipercaya dan tidak mendakwa kita. Sebab orang sedang bermasalah hanya butuh didengarkan, perlu pembelaan dan mendapat masukan positif bukan untuk disalah-salahkan.
Dalam kondisi depresi kita tidak boleh vaukm harus tetap melakukan kegiatan biasa, seperti mandi, merawat diri dan beraktivitas seperti biasa. Akan lebih bagus kita melakukan kegiatan rileks yangmenyenangkan.
Perlu diketahui masa depresi itu hanya bisa ditolerir paling lama 2 minggu setelah itu kita harus menerima kondisi yang sebenarnya agar kita bisa bangkit dan beraktivitas seperti semula.
5. Fase Penerimaan Diri
Jika selama dua minggu kita belum bisa move on bersiaplah untk menjumpai konselor atau psikiater sebgai bantuan ahli. Jelaskan masalah yang sebenarnya. Hal yang perlu di ingat saat masalah berat melanda jangan biarkan pikiran irrasional menguasai kita. Usahakan untuk tetap rasional, menyayangi diri sendiri, orang-orang yang kita sayangi sehingga tidak terlintas hal-hal yang bisa menyakiti diri kita.
Tetaplah belajar dari kondisi yang ada diambil hikmahnya dan tetap selalu bersyukur.
Demikianlah cara menyikapi depresi, apapun masalah kita tetaplah tegak untuk masa depan. Tetaplah bersabar dan bersyukur carilah teman dan lingkungan yang positif. Tetap beriktiar dan serahkan semuanya pada TUHAN.
