
“Seorang guru menguji kemampuan anak didiknya dengan cara diberikan tes soal matematika. Mulanya para murid diuji dengan soal yang sangat gampang, hampir semua siswa mampu menyelesaikannya dengan mudah. Hanya empat orang siswa yang tidak mampu menyelesaikannya. Selanjutnya diberikan soal yang agak sulit setengah dari siswa mampu menyelesaikannya, siswa yang mampu menyelesaikan soal kedua dilanjutkan dengan soal yang lebih sukar. Hanya 4 siswa yang mampu menyelesaikan dengan benar, Sementara yang lainnya dikategorikan lambat atau dikatakan tidak cerdas hanya karena tidak bisa matematika.”
Fenomena diatas sering kita jumpai di sekolah-sekolah, dimana guru dianggap gagal sebagai pendidik hanya karena siswanya tidak bisa matematika. Orang-orang cenderung beranggapan anak yang cerdas itu adalah anak yang pintar matematika. Sedangkan anak yang kemampuannya kurang dibidang tersebut dianggap lemah dianggap tidak cerdas.
Pada prinsipnya, semua anak itu cerdas. Tidak hanya dilihat dari segi kemampuan sains dan matematika saja. Sains dan matematika bukanlah sebuah tolak ukur untuk menilai kecerdasan seorang anak. Setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda, ada yang cenderung ke sains, seni, matematika, sosial, olah raga dan leadership. Perlu kita ketahui, anak mempunyai keterbatasan dalam hal penguasaan tidak mungkin kita paksakan untuk menguasai semua bidang, karena setiap individu itu mempunyai kemampuan masing-masing. Tidak semua anak bisa dipaksakan untuk bisa matematika dan sains karena kecerdasan anak itu beragam. Adapun kecerdasan anak itu bisa dikelompokkan beberapa macam:
- Verbal Linguistik
Merupakan kemampuan menguraikan pikiran, presentasi, dan mengolah bahasa. Umumnya, mereka mampu mengungkapkan pendapat atau pikiran melalui verbal/bahasa. Mampu menggunakan bahasa secara efektif serta tertata dengan baik. Anak yang mempunyai kecerdasan linguistik ditandai dengan kemampuan berbahasa yang bagus, suka tampil sebagai pembicara di depan orang banyak. Umumnya mereka gemar menulis dan berdiskusi.
- Logical Matematika
Merupakan kemampuan secara logis, mampu memberikan penjelasan, memahami konsep matematika, dan mengamati pola dan hubungan suatu sebab dan akibat. Anak yang mempunyai kecerdasan ini ditandai dengan kemampuan menjelaskan sesuatu secara logika, menyelesaikan permasalahan dengan logis, serta mampu mampu menyusun strategi dan informasi dengan jeli.
- Visual Spatial
Kemampuan berpikir 3 dimensi, dimana kecerdasan ini meliputi kecerdasan terhadap warna, garis, bentuk, ruang, dan hubungan. Kemampuan ini lebih cenderung menyampaikan ide lewat gambar dua atau 3 dimensi.
- Body Kinestic
Merupakan kemampuan menggunakan gerak tubuh dalam hal menyampaikan ide. Sering menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah suatu bentuk. Kecerdasan ini ditandai dengan kemampuan menggerakkan anggota tubuh, keseimbangan tubuh kelenturan, dan kesehatan. Umumnya mereka lebih cenderung sebagai pekerja seni teater, penari, dan atlit
- Musical
Kemampuan yang ditandai dengan kepekaan terhadap bunyi, nada, dan melodi. Umumnya mereka mampu menikmati, mengamati, dan membedakan berbagai macam musik dan nada. Memiliki kepekaan yang sangat bagus terhadap beragam suara, irama, dan nada-nada yang di dengar. Ciri umum dari mereka adalah gemar menyanyi, bermain musik, dan mampu mengarang lagu.
- Intra Personal
Merupakan kemampuan dalam hal pengendalian diri, memahami orang lain dan mampu bernegosiasi. Anak ini ditandai dengan kemampuan mereka dalam hal berkomunikasi dan bergaul. Umumnya mereka lebih mudah membawa diri dan bersosialisasi.
- Naturalis
Kemampuan memahami lingkungan, dimana mereka mampu menyatu dengan alam dan beradaptasi terhadap lingkungan. Umumnya mereka di tandai dengan sikap mencintai lingkungan dan suka hal-hal yang berbau adventur.
Demikianlah jenis kecerdasan anak yang perlu kita ketahui untuk lebih memahami karakter mereka. Terutama pada guru dan kaum ibu agar tidak langsung menjudge seorang anak bodoh hanya karena nilai sains dan matematika mereka rendah. Karena setiap anak itu istimewa, mereka punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadikanlah kelebihannya sebagai potensi bagi mereka untuk lebih unggul tidak terpaku pada kekurangan dan ketidakmampuan mereka.